Pekanbaru,ISUETERKININEWS.COM Di era modern saat ini, lingkungan kerja tidak hanya menuntut kemampuan profesional, tetapi juga kecakapan sosial. Seseorang dituntut mampu bergaul, menjalin relasi, bersikap terbuka, dan membangun jaringan seluas mungkin. Namun di balik tuntutan tersebut, ada satu hal penting yang kerap diabaikan, yakni menjaga batasan dalam pertemanan demi kesehatan mental dan ketenangan hidup.
Tidak semua kedekatan membawa kebaikan. Tidak semua orang yang tampak ramah memiliki niat tulus. Dalam banyak kasus, hubungan yang awalnya terlihat akrab justru berakhir pada konflik, pengkhianatan, perselisihan, hingga tekanan psikologis yang berkepanjangan. Karena itu, kemampuan membaca lingkungan dan menempatkan diri menjadi hal yang sangat penting, terutama dalam dunia kerja.
Menjaga batasan bukan berarti anti sosial atau menutup diri. Justru sebaliknya, batasan adalah bentuk kecerdasan emosional agar seseorang tetap mampu berinteraksi tanpa kehilangan privasi, harga diri, dan kestabilan mental.
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu dipahami dalam memilih lingkup pertemanan. Pertama, pilih lingkungan yang sehat. Berada di sekitar orang-orang yang suportif, jujur, dan saling menghargai akan sangat memengaruhi cara berpikir serta kesehatan mental seseorang.
Kedua, batasi hubungan toxic. Jangan ragu menjaga jarak dari orang yang gemar merendahkan, memanfaatkan, memancing konflik, atau membawa energi negatif. Ketiga, jaga komunikasi yang baik. Banyak pertikaian lahir bukan karena masalah besar, tetapi karena salah paham yang dibiarkan.
Keempat, kenali nilai diri sendiri. Jangan menggantungkan harga diri pada penilaian orang lain. Seseorang yang paham nilai dirinya tidak mudah dimanipulasi lingkungan. Kelima, pisahkan urusan pribadi dan profesional. Tidak semua rekan kerja harus menjadi teman dekat. Profesionalitas perlu dijaga.
Selain itu, penting juga belajar berkata tidak terhadap hal-hal yang merugikan, memperhatikan konsistensi seseorang, mengelola emosi dengan bijak, fokus pada perkembangan diri, dan mengutamakan ketenangan batin dibanding pencitraan sosial semata.
Pandangan ini sejalan dengan teori Viktor Frankl melalui konsep Logotherapy. Menurut Frankl, manusia akan lebih kuat menghadapi tekanan hidup apabila memiliki makna dan tujuan yang jelas.
Frankl menyatakan bahwa penderitaan, stres, dan tantangan kerja akan lebih mudah dihadapi ketika seseorang memahami alasan mengapa ia berjuang. Bekerja bukan hanya soal mencari gaji, tetapi juga membangun masa depan, menafkahi keluarga, membiayai pendidikan anak, serta mewujudkan cita-cita hidup.
Ia terkenal dengan kutipannya: “He who has a why to live can bear almost any how.” Artinya, orang yang memiliki alasan hidup akan mampu menghadapi hampir segala ujian.
Dalam konteks dunia kerja, teori ini relevan. Banyak orang kelelahan bukan semata karena pekerjaan berat, tetapi karena kehilangan makna dalam pekerjaannya. Sebaliknya, mereka yang bekerja dengan tujuan jelas cenderung lebih tangguh, sabar, dan tidak mudah menyerah.
Selain teori psikologi modern, nilai-nilai menjaga mentalitas dan memilih lingkungan yang baik juga telah lama dijelaskan para ulama.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa hati yang bersih dan jiwa yang terjaga adalah sumber kebahagiaan. Menurut beliau, penyakit hati seperti iri, dengki, tamak, dan suka membandingkan diri dengan orang lain merupakan penyebab utama rusaknya ketenangan jiwa.
Dalam dunia kerja, iri terhadap jabatan orang lain atau dengki atas keberhasilan rekan kerja hanya akan menambah beban batin. Karena itu, fokus pada usaha sendiri jauh lebih sehat daripada sibuk mengawasi pencapaian orang lain.
Sementara itu, Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menyebut bahwa hati akan sakit jika jauh dari nilai kebaikan, dan akan sehat dengan kesabaran, syukur, serta kedekatan kepada Allah. Nilai ini mengajarkan bahwa ketenangan bukan semata hasil materi, tetapi lahir dari jiwa yang terjaga.
Adapun Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa kebahagiaan sejati berada di dalam hati, bukan pada keadaan luar. Artinya, seseorang bisa saja memiliki jabatan tinggi dan relasi luas, tetapi tetap gelisah jika hatinya kosong.
Pandangan para ulama ini menunjukkan bahwa keberhasilan dalam pekerjaan tidak cukup diukur dari gaji, posisi, atau popularitas. Lebih dari itu, keberhasilan sejati terletak pada akhlak, kejujuran, amanah, kesabaran, dan kemampuan menjaga nama baik.
Di tengah persaingan sosial yang semakin kompleks, menjaga batasan pertemanan adalah bentuk perlindungan diri. Bersikap ramah boleh, tetapi tetap selektif. Membantu orang lain baik, tetapi jangan sampai dimanfaatkan. Menjalin relasi penting, tetapi jangan mengorbankan prinsip hidup.
Pada akhirnya, rezeki bisa dicari, jabatan bisa diraih, jaringan bisa dibangun. Namun ketenangan hati dan kesehatan mental adalah aset berharga yang tidak bisa dibeli.
Karena itu, siapa pun yang ingin bertahan di dunia kerja dan pergaulan modern perlu memahami satu hal penting: tidak semua orang harus masuk terlalu jauh ke dalam hidup kita.
Menjaga batasan bukan kelemahan, melainkan kedewasaan.
Penulis: Leli Maslina, SH
