Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

KHFF 2026 Umumkan Pemenang, Sembilan Film Terbaik Angkat Perspektif Baru tentang Heritage Indonesia

Senin, 21 September 2026 | September 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-21T09:35:57Z



Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM — Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 resmi mengakhiri rangkaian penyelenggaraan keempatnya melalui acara Closing & Awarding Night yang berlangsung di Gedung PDIN Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026). Pada momentum yang sama, KHFF juga menyampaikan laporan penyelenggaraan festival sekaligus mengumumkan para pemenang kompetisi dalam agenda Festival Report yang digelar di ARTOTEL Suites Bianti, Yogyakarta.


Festival yang berlangsung selama 17–19 September 2026 ini menjadi ruang apresiasi dan pertemuan bagi para sineas, komunitas film, pelajar, serta masyarakat umum untuk mengeksplorasi kembali makna warisan budaya melalui karya sinema.


Pada penyelenggaraan keempatnya, KHFF 2026 membawa gagasan mengenai kontekstualisasi heritage. Festival ini berupaya melihat warisan budaya bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu yang harus dijaga, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang terus bergerak, mengalami perubahan, dan memiliki hubungan erat dengan dinamika sosial masyarakat.


Pembukaan KHFF 2026 ditandai dengan program Becak Drive-In Cinema di Pasar Terban yang menghadirkan film Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja sebagai tayangan pembuka. Konsep pemutaran film di ruang terbuka tersebut berhasil menarik perhatian sekitar 1.000 pengunjung dan menjadikan Pasar Terban sebagai ruang interaksi baru antara film, kota, dan masyarakat.


Dalam penyelenggaraannya tahun ini, KHFF turut memperkuat jaringan kolaborasi dengan berbagai sektor. Festival tersebut mendapat dukungan dari lima mitra pemerintah, satu mitra korporasi, serta 12 mitra perhotelan. Kolaborasi tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari kebudayaan, transportasi, perdagangan, hingga pengembangan potensi ekonomi lokal.


Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa KHFF menjadi salah satu ruang yang membantu masyarakat melihat warisan budaya dari sudut pandang yang lebih luas.


“Heritage tidak hadir dalam satu bentuk atau satu perspektif. Ia dapat lahir dari pengalaman personal, keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, maupun institusi negara,” kata Yetti.


Direktur Festival KHFF 2026, Siska Raharja, mengungkapkan bahwa respons masyarakat terhadap penyelenggaraan festival tahun ini menunjukkan antusiasme yang tinggi. Pada hari kedua pelaksanaan, tujuh program yang digelar di PDIN mencatat sebanyak 321 peserta dari total kapasitas 350 orang atau mencapai tingkat keterisian sebesar 91,7 persen. Bahkan, beberapa program mencatat jumlah peserta yang melebihi kapasitas awal.


“Antusiasme ini menunjukkan bahwa pembahasan mengenai film dan heritage semakin mendapat tempat di tengah masyarakat. Tantangan KHFF adalah menghadirkan kesadaran bahwa heritage bukan sesuatu yang jauh, melainkan bagian dari keseharian kita,” ujar Siska.


Dari sisi kurasi, KHFF 2026 mencatat jumlah pendaftar film tertinggi sepanjang empat tahun penyelenggaraan dengan total 184 karya yang masuk. Sebanyak 27 film kemudian dipilih untuk ditayangkan, terdiri atas 24 film nasional dan tiga film internasional yang terbagi dalam delapan program pemutaran.


Karya-karya tersebut berasal dari 21 provinsi di Indonesia yang mencakup wilayah Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali dan Nusa Tenggara, hingga Sulawesi. Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi wilayah dengan jumlah partisipasi terbesar sebanyak 46 film, disusul Jawa Timur dengan 32 film, Jawa Tengah 30 film, serta Jawa Barat 29 film.


Direktur Program KHFF 2026, Suluh Pamuji, menjelaskan bahwa proses kurasi tahun ini tidak hanya mempertimbangkan film yang menampilkan heritage sebagai bagian dari cerita, tetapi juga bagaimana sinema mampu menjadi medium untuk membaca hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan, tradisi, dan perubahan sosial.


Selain program kompetisi, KHFF 2026 juga menghadirkan sejumlah program pendukung seperti Heritage in Indonesian Cinema, Heritage in Experimental Cinema, dan Panorama. Festival turut menghadirkan forum diskusi serta kegiatan edukasi, seperti Director Talk: Mistik Melampaui Ketakutan bersama Wregas Bhanuteja, Heritage Workshop: Stop Motion, serta Heritage Talk: Merawat yang Hidup.


Tiga kategori kompetisi utama, yakni Mahaditya Awards, Karyanagri Awards, dan Purwaseswa Awards, menjadi wadah bagi berbagai karya film yang menghadirkan sudut pandang berbeda dalam memahami warisan budaya.


Pada kategori Mahaditya Awards, film NIAT INGSUN NGAJI karya Sri Rahmawati asal Cilacap, Jawa Tengah, berhasil meraih penghargaan tertinggi berupa Golden Mahaditya Award. Penghargaan Silver Mahaditya Award diberikan kepada NAIJAN ON HAI AINA karya Wisnu Febri Wardana dari Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, Jury Special Mention diberikan kepada film HOPE karya Angel Ching dari Yogyakarta.


Untuk kategori Karyanagri Awards, Golden Karyanagri Award diraih oleh film BONG karya Destian Rendra dari Malang, Jawa Timur. Silver Karyanagri Award diberikan kepada MATEOS ANIN karya Gilang Akbar dari Banyumas, Jawa Tengah, sedangkan penghargaan Jury Special Mention diberikan kepada KHATIB GANTARANG LALANG BATA karya Zhaddam A. Nurdin dari Makassar, Sulawesi Selatan.


Pada kategori Purwaseswa Awards, penghargaan Golden Purwaseswa Award diberikan kepada film MUPUSTI: Melestarikan dan Merawat, Bukan Menyembah karya Ilya Fathimah Taqiyya dari Bandung, Jawa Barat. Sementara Silver Purwaseswa Award diraih film SERADA karya Septiyani Putri dari Kebumen, Jawa Tengah, dan Jury Special Mention diberikan kepada film Tuwuhè Rarè (Anak yang Bertumbuh) karya Gede Dika Dheva Ariadi dari Denpasar, Bali.


Rangkaian KHFF 2026 kemudian ditutup melalui acara Closing & Awarding Night di PDIN Yogyakarta dengan penampilan Sawung Jabo & Sirkus Barock. Acara tersebut menjadi ruang apresiasi bagi para pemenang, pembuat film, komunitas, volunteer, mitra, serta seluruh pihak yang berkontribusi dalam keberlangsungan festival.


Melalui penyelenggaraan tahun keempat ini, KHFF semakin memperkuat perannya sebagai ruang dialog antara film dan kebudayaan. Festival ini menunjukkan bahwa heritage bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi terus berkembang melalui berbagai bentuk ekspresi kreatif dan pengalaman masyarakat. (Fqh).

×
Berita Terbaru Update