Notification

×

Iklan

Iklan

FKY 2025 Usung Tema “Adoh Ratu Cedhak Watu”, Angkat Kearifan Adat Gunungkidul Lewat 9 Program Budaya

Minggu, 05 Oktober 2025 | Oktober 05, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-10-05T10:02:26Z



Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM -- Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 kembali hadir dengan semangat baru yang menonjolkan kolaborasi lintas komunitas dan pelestarian adat istiadat. Tahun ini, festival budaya tahunan tersebut mengangkat tema “Adoh Ratu Cedhak Watu” yang berakar dari kearifan lokal masyarakat Kabupaten Gunungkidul.


Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menjelaskan bahwa FKY kini tengah berada dalam masa transformasi besar. Menurutnya, festival ini tidak lagi sekadar menampilkan pertunjukan seni, tetapi menjadi ruang kolaboratif dan interaktif bagi masyarakat, seniman, dan pelaku budaya.


“Selama tiga tahun terakhir, FKY telah bertransformasi menjadi ajang aktivasi budaya. Tahun ini, kami fokus mengeksplorasi nilai-nilai adat istiadat Gunungkidul melalui tema Adoh Ratu Cedhak Watu,” ujar Dian dalam jumpa pers di Hotel Grand Rohan, Sabtu (4/10/2025).


Lebih lanjut, Dian menerangkan bahwa tema tersebut bermakna “jauh dari raja, dekat dengan batu”, yang menggambarkan karakter masyarakat Gunungkidul yang mandiri serta memiliki hubungan harmonis dengan alam.


“Gunungkidul dipilih karena kekayaan adat dan lanskapnya yang unik. Masyarakat di sana hidup selaras dengan alam yang mereka hormati,” tambah Dian.


Festival ini menjadi bagian dari roadmap lima tahunan FKY yang berpindah dari satu kabupaten ke kabupaten lain di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Setelah mengangkat tema ketahanan pangan di Kulon Progo pada 2023 dan benda di Bantul pada 2024, tahun ini giliran Gunungkidul yang menonjolkan adat istiadatnya. Selanjutnya, FKY 2026 akan digelar di Sleman dengan tema bahasa, dan pada 2027 akan berakhir di Kota Yogyakarta dengan tema nilai budaya.


“FKY bukan hanya festival hiburan, melainkan laboratorium budaya. Di sini, ide dan praktik kebudayaan bertemu, berdialog, dan berkembang bersama masyarakat,” jelas Dian. 


Ia juga menegaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini dilakukan melalui kolaborasi setara antara panitia, pelaku budaya, dan komunitas lokal. 


“Masyarakat menjadi pelaku aktif, bukan sekadar penonton,” imbuhnya.


Festival Kebudayaan Yogyakarta 2025 akan berlangsung selama sepekan, mulai 11–18 Oktober 2025 di Lapangan Desa Logandeng, Gunungkidul, dengan menghadirkan sembilan program unggulan yang memadukan seni, budaya, kuliner, hingga olahraga tradisional.


Program pertama yakni Pawai Pembukaan FKY 2025, menampilkan Pawai Rajakaya dan upacara adat Gumbrengan yang melibatkan hewan ternak sebagai simbol kesyukuran dan keseimbangan alam. Program kedua, Kompetisi FKY, terdiri dari Panji Desa, Ternak Sehat, dan Jurnalisme Warga sebagai ruang kreasi budaya masyarakat.


Kemudian ada Jelajah Budaya yang berisi lokakarya, penelusuran tutur, dan sandiwara adat; serta Pameran Seni Visual yang melibatkan kolaborasi seniman lokal dan luar daerah melalui program residensi.


Selain itu, Panggung FKY akan menghadirkan pertunjukan seni dari lima wilayah DIY, FKY Bugar menggabungkan olahraga dan budaya khas Gunungkidul, sementara Pasaraya Adat “Ruwang Berdaya” menjadi ruang ekonomi kreatif bagi 18 komunitas lokal.


Program kedelapan, Pawon Hajat Khasiat, menonjolkan kuliner tradisional berbasis bahan alam, dan yang terakhir, FKY Rembug, menjadi ruang dialog, podcast, dan musyawarah adat yang membahas relevansi kearifan lokal di masa kini. (Fqh).

×
Berita Terbaru Update