Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM — Cahaya lampion yang menghiasi sudut-sudut Kampung Ketandan kembali menghadirkan suasana hangat penuh kebersamaan dalam gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta yang digelar untuk menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, Rabu (25/2/2026).
Festival budaya tahunan ini tidak hanya menjadi perayaan tradisi masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjelma sebagai ruang perjumpaan nilai budaya, spiritualitas, serta kebersamaan lintas masyarakat di Yogyakarta.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, dalam sambutannya menyampaikan bahwa perayaan budaya sejatinya merupakan ruang peradaban yang menjaga nilai-nilai luhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
"Menurutnya, kawasan Ketandan yang memiliki jejak sejarah panjang menjadi simbol nyata akulturasi budaya yang telah tumbuh harmonis di Yogyakarta. Kehidupan masyarakat yang berdampingan dalam keberagaman menunjukkan bahwa tradisi mampu menjadi jembatan persatuan," ujar Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Tahun ini, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta terasa semakin istimewa karena berlangsung beriringan dengan bulan Ramadan. Panitia menghadirkan kegiatan kebersamaan seperti tausiyah serta pembagian takjil bagi masyarakat, mencerminkan harmoni antara perayaan budaya dan nilai religius yang berjalan berdampingan.
Pesan keseimbangan menjadi benang merah dalam penyelenggaraan festival. Filosofi Yin dan Yang dari budaya Tiongkok dipadukan dengan falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, yang menekankan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan sosial.
Tak hanya menghadirkan pertunjukan seni dan budaya, festival ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran pelaku UMKM, pedagang kuliner, hingga perajin lokal turut menghidupkan kawasan wisata, bahkan aktivitas ekonomi meluas hingga area Jalan Malioboro dan sekitarnya.
Beragam pertunjukan akulturasi budaya, termasuk wayang potehi yang tampil berdampingan dengan kesenian Jawa, menjadi gambaran nyata bagaimana keberagaman mampu melahirkan kreativitas sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat.
Melalui Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta, kota ini kembali menegaskan identitasnya sebagai ruang terbuka bagi berbagai budaya yang tumbuh dalam semangat toleransi dan kebersamaan. Dari Ketandan, pesan harmoni dan persatuan terus digaungkan sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang damai dan berkelanjutan. (Fqh).
