Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM– Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2026 dipastikan akan berlangsung bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Momentum ini dimanfaatkan panitia untuk menghadirkan konsep baru, yakni menjadikan PBTY sebagai ruang ngabuburit budaya yang inklusif di jantung Kota Yogyakarta, tepatnya di kawasan Ketandan dan sekitarnya.
Ketua Panitia PBTY 2026, Jimmy Sutanto, menyampaikan bahwa penyelenggaraan PBTY tahun ini dirancang lebih terbuka dan adaptif terhadap suasana Ramadan. Hal tersebut disampaikan usai pertemuannya dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.
“PBTY 2026 kami siapkan sebagai ruang kebersamaan lintas budaya dan lintas golongan. Karena bertepatan dengan Ramadan, konsepnya juga kami arahkan menjadi tempat ngabuburit yang nyaman dan bernilai budaya,” ujar Jimmy saat ditemui awak media di lokasi kegiatan, Rabu (21/1/2026).
Jimmy menjelaskan, PBTY 2026 akan digelar selama tujuh hari, mulai 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Selama pelaksanaan, masyarakat dapat menikmati berbagai pertunjukan seni dan budaya sambil menunggu waktu berbuka puasa di kawasan pusat kota.
Menurutnya, PBTY bukan hanya perayaan budaya Tionghoa semata, melainkan wadah kolaborasi berbagai unsur seni dan budaya Nusantara yang merepresentasikan keberagaman Yogyakarta.
“Kami ingin merangkum semua unsur golongan dan seni budaya agar PBTY menjadi simbol kebersamaan serta persatuan,” katanya.
Pada pelaksanaan tahun ini, lanjut Jimmy, terdapat perubahan penataan lokasi acara. Panggung utama yang menampilkan ragam seni budaya direncanakan berada di sekitar Jalan Suryatmajan.
“Untuk bentuk dan lokasi pastinya masih akan dirundingkan lebih lanjut dan disesuaikan dengan kondisi lapangan agar tetap aman dan nyaman bagi pengunjung,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Pelaksana PBTY 2026, Subekti Saputro Wijaya, mengungkapkan bahwa kesesuaian waktu dengan Ramadan membuat panitia menyusun konsep khusus agar PBTY tetap relevan dan ramah bagi masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
“Selain menjadi tempat menunggu waktu berbuka, kami juga menyiapkan penyediaan takjil di beberapa titik lokasi agar pengunjung bisa langsung berbuka puasa,” ungkap Subekti.
Ia menambahkan, tema yang diusung dalam PBTY 2026 adalah “Warisan Budaya Memperkuat Persatuan Bangsa”. Tema tersebut dipilih untuk menegaskan peran Yogyakarta sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi, keberagaman, dan harmoni sosial.
Sebagai agenda puncak, Malioboro Imlek Carnival dijadwalkan digelar pada Sabtu, 28 Februari 2026.
"Karnaval ini akan melibatkan berbagai komunitas seni dan budaya, sekaligus menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta selama Ramadan," jelasnya
Dengan konsep ngabuburit budaya di pusat kota, PBTY 2026 diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga ruang perjumpaan sosial yang mempererat persatuan dan memperkuat citra Yogyakarta sebagai kota budaya dan toleransi. (Fqh).

