Notification

×

Iklan

Iklan

Kirab Budaya “Pretelan Budhaya Tolak Kekerasan” Warnai Aksi Damai Kawulo Ngayogyakarta di Mapolda DIY

Jumat, 27 Februari 2026 | Februari 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-27T05:17:17Z



Sleman, ISUETERKININEWS.COM – Kawulo Ngayogyakarta yang terdiri dari tokoh masyarakat dan budaya yang tergabung dalam Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan DIY menggelar aksi damai bertajuk “Pretelan Budhaya Tolak Kekerasan Utamakna Katentreman”, Kamis (26/2/2026). Aksi tersebut dikemas dalam kirab budaya dari Terminal Condongcatur menuju halaman Mapolda DIY.

Kirab diikuti tiga pasukan bregada, yakni Bregada Rakyat Widya Permana, Bregada Rakyat Jaladwara, dan Bregada Rakyat Wirotomo. Barisan peserta yang mengenakan busana adat Jawa dan Nusantara itu turut diikuti masyarakat adat budaya serta mendapat pengawalan dari Payuyuban Keamanan Kraton (Paksi Katon), aparat keamanan, dan jaga warga.


Rombongan menyusuri jalur lambat Ringroad Utara hingga tiba di halaman Mapolda DIY. Setibanya di lokasi, peserta aksi diterima langsung oleh Wakapolda DIY, Brigjen Pol Eddy Djunaedi, S.I.K., beserta jajaran.


Dalam penyampaiannya, perwakilan Kawulo Ngayogyakarta menegaskan bahwa penyampaian aspirasi merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan demokrasi Indonesia, terlebih sejak bergulirnya reformasi. Namun demikian, kebebasan berpendapat tetap harus berada dalam koridor hukum dan menjunjung tata tertib.


“Demokrasi memberikan ruang bagi rakyat untuk menyampaikan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab. Namun kebebasan tersebut bukan tanpa batas. Penyampaian aspirasi harus tetap berada dalam koridor hukum serta menghindari kekerasan, anarkisme, maupun perusakan fasilitas umum, terlebih di Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa,” ujarnya.


Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kedamaian dan persatuan. 


“Jangan sampai semangat menyampaikan pendapat justru menimbulkan perpecahan dan kerusakan. Hormatilah hak-hak masyarakat lainnya dan jagalah fasilitas umum sebagai milik bersama,” katanya.


Pernyataan sikap kemudian dibacakan oleh Widihasto Wasana Putra selaku Ketua Sekber Keistimewaan DIY. Dalam pernyataannya, ia menegaskan tiga poin utama, yakni setiap penyampaian aspirasi harus berada dalam koridor hukum dan tata tertib yang berlaku; menolak segala bentuk kekerasan, anarkisme, provokasi serta perusakan fasilitas umum; serta mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga kerukunan dan ketenteraman bersama.


“Pernyataan sikap ini kami sampaikan dengan penuh tanggung jawab dan kecintaan kepada bangsa dan negara. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membimbing kita dalam menjalankan demokrasi yang santun, dewasa, dan bertanggung jawab,” jelasnya.


Menanggapi hal tersebut, Wakapolda DIY Brigjen Pol Eddy Djunaedi menyampaikan apresiasi atas aksi damai yang dikemas dalam bentuk kirab budaya.


“Atas nama pimpinan Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, kami menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh peserta kirab budaya yang hadir dengan penuh ketertiban, mengenakan busana adat sebagai simbol keluhuran budi dan jati diri budaya,” ujarnya.


Ia menilai kegiatan bertajuk “Pretelan Budhaya Tolak Kekerasan Utamakna Katentreman” membawa pesan moral yang kuat. Menurutnya, budaya Yogyakarta adalah budaya adiluhung yang menjunjung tinggi tata krama, tepa selira, dan harmoni sosial, selaras dengan semangat keistimewaan DIY.


“Kami memahami bahwa dalam dinamika demokrasi, penyampaian aspirasi adalah hak setiap warga negara. Namun sebagaimana dhawuh Ngarsa Dalem Sri Sultan agar aspirasi disampaikan dengan santun dan tanpa kekerasan, pesan damai hari ini menjadi sangat relevan,” ungkapnya.


Ia menambahkan, peristiwa aksi anarkis yang sempat terjadi sebelumnya menjadi preseden kurang baik bagi citra Yogyakarta sebagai Kota Budaya dan Kota Pelajar. Karena itu, kehadiran peserta kirab dengan pesan damai dinilai memperkuat komitmen bersama menolak segala bentuk kekerasan.


“Kehadiran panjenengan semua membawa resonansi moral bahwa DIY menolak kekerasan dalam bentuk apa pun, termasuk perusakan fasilitas umum maupun fasilitas negara,” katanya.


Lebih lanjut, Polda DIY, berkomitmen menjamin kebebasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi secara damai sesuai ketentuan hukum, mengedepankan pendekatan humanis, dialogis, dan persuasif dalam pengamanan kegiatan masyarakat, serta bersinergi dengan seluruh elemen untuk menjaga ketenteraman di Bumi Mataram.


“Keamanan bukan hanya tugas kepolisian, tetapi tanggung jawab bersama. Sinergi antara aparat dan masyarakat adalah benteng utama agar Yogyakarta tetap teduh, aman, dan bermartabat,” tuturnya.


Sekitar pukul 16.30 WIB, usai menyampaikan aspirasi dan pernyataan sikap, peserta kirab kembali menuju Terminal Condongcatur. Mereka berjalan tertib sambil memainkan musik khas bregada seperti tambur, suling, terompet, dan bendhe, menutup aksi damai dengan nuansa budaya yang kental. (Fqh).

×
Berita Terbaru Update