Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengungkapkan adanya satu kasus Super Flu yang teridentifikasi di wilayah Kota Yogyakarta. Kasus tersebut terdeteksi pada penghujung September 2025 dan dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium di RSUP Dr. Sardjito. Pasien yang bersangkutan kini telah dinyatakan sembuh sepenuhnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Lana Unwanah, menyampaikan bahwa temuan ini merupakan hasil pemantauan rutin penyakit mirip influenza.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di RS Sardjito, pasien tersebut terkonfirmasi positif Influenza A tipe H3N2-D atau yang dikenal masyarakat sebagai Super Flu,” ujarnya saat jumpa pers di Balai Kota Yogyakarta, Jumat (9/1/2026).
Ia menjelaskan, pasien yang terkonfirmasi positif tersebut merupakan warga Kota Yogyakarta dan telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur.
“Alhamdulillah, kondisi pasien sudah membaik dan saat ini telah pulih, sehingga tidak ada laporan lanjutan terkait komplikasi,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Lana menerangkan bahwa Super Flu merupakan jenis Influenza A dengan karakteristik gejala yang lebih berat dibandingkan flu musiman biasa.
“Gejalanya bisa berupa demam tinggi yang muncul mendadak, nyeri otot dan sendi, rasa lelah berlebihan, sakit kepala, serta batuk yang dapat berlangsung lebih lama, bahkan hingga lebih dari satu minggu,” tuturnya.
Ia juga menegaskan perbedaan antara Super Flu dan COVID-19. Menurutnya, Super Flu hanya menyerang saluran pernapasan bagian atas.
“Berbeda dengan COVID-19 yang cepat menyerang paru-paru hingga alveolus, Super Flu ini terbatas pada hidung, tenggorokan, dan trakea, sehingga tidak sampai merusak jaringan paru,” jelasnya.
Dalam upaya pemantauan, Dinkes Kota Yogyakarta menerapkan sistem sentinel, yakni pengambilan sampel pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
“Tidak semua pasien dengan gejala flu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan dilakukan secara sampling untuk memantau tren penyakit, karena Super Flu ini tidak bersifat mematikan secara cepat seperti COVID-19,” terang dr. Lana.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kelompok rentan tetap perlu mendapatkan perhatian khusus. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta memiliki risiko lebih tinggi.
“Kelompok ini sebaiknya mendapatkan perlindungan ekstra dan pengondisian kesehatan yang lebih baik,” katanya.
Dinkes Kota Yogyakarta pun mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan langkah pencegahan dasar. Menjaga kebersihan diri, mencuci tangan secara rutin, mencukupi waktu istirahat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta mengendalikan penyakit komorbid menjadi kunci utama.
“Edukasi dan kesadaran masyarakat sangat penting agar penularan penyakit pernapasan, termasuk Super Flu, dapat ditekan,” pungkasnya. (Fqh).
