Ketua Tim Kerja Pembinaan Kepemudaan Disdikpora Kota Yogyakarta, Mugi Suyatno, menyebut program ini menjadi salah satu upaya pemerintah menumbuhkan budaya kepeloporan di kalangan generasi muda.
“Ini bukan hanya soal lomba, tapi bagaimana anak muda punya ruang untuk menunjukkan bahwa mereka bisa berkontribusi untuk kota dan masyarakat,” katanya saat jumpa pers di Balai Kota Yogyakarta, Muja-Muju, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Kamis (23/4/2026).
Menariknya, antusiasme peserta mulai menunjukkan tren positif. Hingga kini, sebanyak 26 pemuda telah mendaftar, dengan komposisi seimbang antara laki-laki dan perempuan, masing-masing 13 orang. Bagi Mugi, angka tersebut bukan sekadar statistik, tetapi sinyal bahwa semakin banyak anak muda mulai percaya diri membawa ide dan inovasinya ke ruang publik.
Seleksi tahun ini membuka lima bidang kepeloporan, yakni pangan, pendidikan, inovasi teknologi, seni budaya, serta pengelolaan sumber daya alam, lingkungan, dan pariwisata.
Bidang-bidang itu dinilai dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda sekaligus memberi ruang luas bagi berbagai bentuk inovasi, dari gagasan sosial hingga karya berbasis komunitas.
“Karya kepeloporan itu tidak harus sesuatu yang besar atau rumit. Bisa dari hal sederhana yang punya dampak bagi orang banyak,” ucapnya.
Pengurus Forum Pemuda Pelopor Kota Yogyakarta (FPPKY), Muhammad Helmi Rahman.
Menurut Helmi, banyak pemuda kerap merasa gagasannya belum cukup besar untuk diikutsertakan. Padahal justru ide-ide sederhana yang konsisten dijalankan bisa menjadi bentuk kepeloporan yang bernilai.
Hal senada disampaikan Pengurus FPPKY Pangky Febriantanto. Ia menyebut kepeloporan bukan semata soal prestasi, tetapi keberanian anak muda untuk menghadirkan solusi di tengah masyarakat.
“Kami ingin menemukan permata-permata baru. Pemuda yang mungkin selama ini bergerak diam-diam di komunitasnya, tapi punya dampak besar,” tuturnya.
Selain menjadi ajang apresiasi, seleksi ini juga membuka peluang pembinaan lanjutan bagi peserta. Pemerintah Kota Yogyakarta bahkan tengah mendorong terbentuknya “bank pelopor”, yakni jejaring pemuda inovatif yang bisa terus dikembangkan.
Bagi pemuda yang masih ragu menentukan bidang yang sesuai, panitia juga membuka ruang konsultasi melalui contact person yang telah disediakan.
“Jangan takut mendaftar karena merasa idenya kecil. Justru yang kami cari adalah kebermanfaatannya,” katanya.
Pemenang Pemuda Pelopor 2026 nantinya akan diumumkan pada pertengahan Juni dan mendapat penghargaan pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober mendatang. Dengan pendaftaran yang masih terbuka, Pemkot Yogyakarta berharap semakin banyak anak muda mengambil peran dan membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana. Karena menjadi pelopor, pada akhirnya bukan soal siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang mau mulai bergerak lebih dulu. (Fqh).
