Sleman, ISUETERKININEWS.COM – Inovasi pendidikan berbasis masyarakat yang dikembangkan RW 18 Ramah Anak Leles, Padukuhan Ngringin, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendapat kesempatan tampil di ajang nasional Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) 2026 yang berlangsung di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 1–2 Juli 2026.
Dalam kegiatan tersebut, RW 18 Ramah Anak Leles bergabung bersama satuan pendidikan formal dan nonformal Kapanewon Depok melalui Booth Pameran Sleman Sembada. Beragam inovasi dan praktik kolaboratif dalam membangun ekosistem pendidikan ditampilkan sebagai contoh keterlibatan masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan.
KPI 2026 mengusung tema "Membangun Ekosistem Pendidikan untuk Masyarakat Sembada". Forum berskala nasional ini mempertemukan pemerintah, akademisi, sekolah, komunitas, dunia usaha, media massa, hingga masyarakat untuk saling berbagi pengalaman sekaligus merumuskan langkah strategis memperkuat transformasi pendidikan yang berkelanjutan.
Partisipasi Kapanewon Depok menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan tidak hanya bertumpu pada sekolah. Peran keluarga, masyarakat, pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, serta berpihak kepada anak.
Salah satu materi yang banyak menyita perhatian pengunjung ialah Poster Gagasan Inovasi "Surgaloka Anak Indonesia" karya Ketua Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) RW 18 Ramah Anak Leles, Didiek Arifin.
Melalui poster tersebut, Didiek menjelaskan proses pembangunan kawasan ramah anak menggunakan pendekatan STAR (Situation, Challenge, Action, Reflection). Pendekatan itu menggambarkan kondisi awal yang dihadapi masyarakat, tantangan yang muncul, langkah-langkah kolaboratif yang dilakukan bersama berbagai pihak, hingga hasil yang telah dicapai beserta peluang pengembangannya di daerah lain.
Inovasi Surgaloka Anak Indonesia berangkat dari kepedulian masyarakat terhadap meningkatnya penggunaan gawai pada anak-anak serta semakin terbatasnya ruang bermain yang aman dan edukatif. Berbekal semangat gotong royong, warga bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Pemerintah Kabupaten Sleman, dan sejumlah mitra menghadirkan taman bermain ramah anak yang kini berkembang menjadi ruang belajar, bermain, berkreasi, sekaligus sarana penguatan karakter anak melalui berbagai aktivitas edukatif.
Ketua Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak RW 18 Ramah Anak Leles, Didiek Arifin, mengatakan keikutsertaan dalam KPI 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan praktik baik yang lahir dari masyarakat sekaligus memperluas wawasan melalui pertukaran pengalaman dengan daerah lain.
"Kami ingin menunjukkan bahwa membangun ekosistem pendidikan tidak hanya dilakukan di ruang kelas. Pendidikan juga tumbuh dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Melalui inovasi RW Ramah Anak, kami berharap pengalaman dari Leles Ngringin dapat menginspirasi daerah lain untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak," ujar Didiek, Rabu (1/7/2026).
Selain menghadirkan poster inovasi, Booth Kapanewon Depok juga menampilkan Peta Kolaborasi yang menggambarkan hubungan dan peran berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pembangunan pendidikan di wilayah tersebut.
Peta tersebut memperlihatkan sinergi antara Pemerintah Kabupaten Sleman, Pemerintah Kalurahan, Kapanewon Depok, sekolah, perguruan tinggi, masyarakat, komunitas, sektor swasta, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Dalam skema itu, Pemerintah Kabupaten Sleman bertanggung jawab pada penyusunan kebijakan, penganggaran, pengembangan kurikulum, serta pembinaan pendidikan. Pemerintah Kalurahan berperan sebagai fasilitator di tingkat lokal, sedangkan sekolah menjadi pelaksana utama proses pembelajaran. Perguruan tinggi memberikan dukungan melalui riset, program Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan peningkatan kapasitas tenaga pendidik.
Di sisi lain, masyarakat bersama PKK, Karang Taruna, taman bacaan masyarakat, komite sekolah, dunia usaha, dan BUMDes turut mengambil bagian melalui pembinaan, penyediaan sarana dan prasarana, pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga pemberian beasiswa. Seluruh potensi tersebut dikoordinasikan oleh Kapanewon Depok agar berjalan dalam satu arah pembangunan pendidikan.
Panewu Depok, Rakhmat Harinawan, S.Sos., M.Si., mengapresiasi keterlibatan RW 18 Ramah Anak Leles bersama satuan pendidikan formal maupun nonformal dalam Pameran Sleman Sembada pada KPI 2026.
"Partisipasi RW 18 Ramah Anak bersama satuan pendidikan formal dan nonformal menunjukkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat merupakan kekuatan utama dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas. Kami berharap praktik baik yang ditampilkan Kapanewon Depok dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia," kata Rakhmat.
Hal senada disampaikan Ketua Paguyuban PAUD Condongcatur, Reni Lestari. Menurutnya, keikutsertaan dalam KPI 2026 menjadi kesempatan memperluas jejaring kerja sama sekaligus saling berbagi pengalaman antar lembaga pendidikan.
"Keikutsertaan ini menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperluas kolaborasi. Semoga praktik baik yang ditampilkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan dan menginspirasi lahirnya inovasi-inovasi yang berpihak kepada anak," ungkap Reni.
Apresiasi juga diberikan Koordinator Wilayah Pendidikan (Korwil Yandik) Kapanewon Depok, Rahayu Setyaningsih, M.Pd. Ia menilai kepedulian masyarakat RW 18 Leles terhadap tumbuh kembang anak merupakan contoh nyata partisipasi masyarakat dalam membangun karakter generasi muda.
"Luar biasa kepedulian masyarakat RW 18 Leles Condongcatur terhadap tumbuh kembang karakter anak-anak. Semoga program ini terus berkembang menjadi lebih baik, memberikan manfaat yang semakin luas, serta menjadi inspirasi bagi lingkungan lain untuk bersama-sama menciptakan ekosistem pendidikan yang ramah anak. Tetap semangat," tutur Rahayu.
Selama penyelenggaraan KPI 2026, peserta mengikuti berbagai agenda, mulai dari Dialog Berpihak kepada Anak, Rembug Daerah, Belajar dari Anak, Studio Intervensi, Poster Gagasan Inovasi, Pameran Kerja Barengan, Pameran Sleman Sembada, hingga kunjungan belajar ke sejumlah lokasi praktik baik transformasi pendidikan di Kabupaten Sleman.
Keikutsertaan RW 18 Ramah Anak Leles dalam forum nasional tersebut menunjukkan bahwa transformasi pendidikan dapat dimulai dari lingkungan terkecil. Ketika pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat bekerja bersama, ekosistem pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan bukan hanya menjadi harapan, tetapi dapat diwujudkan secara nyata sebagai bagian dari upaya menuju Indonesia Emas 2045. (Fqh).


