Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM – Kota Yogyakarta dinilai punya modal kuat untuk berkembang menjadi salah satu pusat perfilman nasional. Selain kaya akan budaya, kota ini juga memiliki banyak talenta kreatif dan lokasi menarik yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produksi film.
Potensi tersebut mendapat perhatian Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan. Ia menyebut Pemerintah Kota Yogyakarta terus mendorong pertumbuhan industri kreatif, termasuk sektor perfilman yang dinilai mampu menjadi sarana promosi budaya sekaligus menggerakkan aktivitas kreatif masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Wawan saat menghadiri audiensi CINELIFT dalam rangka promosi film Piye To Kih? produksi Miracle Pictures di Ruang Yudhistira, Balai Kota Yogyakarta, Jumat (23/10/2026).
Wawan mengatakan, Yogyakarta selama ini dikenal sebagai kota yang memiliki kekayaan seni dan budaya. Kondisi tersebut menjadi salah satu keunggulan yang dapat dimanfaatkan oleh para sineas untuk menghasilkan karya film dengan karakter lokal yang kuat.
Menurutnya, banyak kawasan di Yogyakarta yang menarik untuk dijadikan lokasi syuting. Karena itu, ia berharap para pembuat film tidak hanya menggunakan jasa pemain asal Yogyakarta, tetapi juga mengangkat berbagai tempat yang memiliki nilai sejarah, budaya, maupun daya tarik wisata.
Ia mencontohkan kawasan Prawirotaman yang pernah menjadi salah satu lokasi pengambilan gambar film Ada Apa dengan Cinta?. Wawan berharap kawasan lain di Yogyakarta juga semakin banyak muncul dalam produksi film nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Wawan turut menyampaikan apresiasi terhadap film Piye To Kih?. Film bergenre drama komedi dengan unsur supranatural itu dinilai menawarkan hiburan ringan sekaligus menyisipkan pesan tentang kehidupan.
“Film yang dikemas pun cukup sebagai tontonan yang ringan di tengah kondisi kita saat ini. Kami mengapresiasi, khususnya karena beberapa pemainnya juga berasal dari Jogja, seperti Marwoto,” katanya.
Wawan menambahkan, pengembangan perfilman menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat Yogyakarta sebagai Kota Festival. Melalui Dinas Kebudayaan, berbagai kegiatan yang memberikan ruang bagi pelaku seni dan generasi muda terus didukung.
Salah satunya adalah Kota Baru Heritage Film Festival (KHFF), yang menjadi wadah bagi para pembuat film untuk berkarya sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya kepada masyarakat.
Ia berharap kegiatan semacam ini dapat terus berkembang dan membuka kesempatan lebih luas bagi generasi muda yang ingin menekuni dunia perfilman.
Pemerintah Kota Yogyakarta juga menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan pemutaran maupun peluncuran film yang melibatkan pelaku kreatif lokal. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu memperkenalkan karya sineas kepada penonton yang lebih luas.
Sementara itu, sutradara sekaligus produser Piye To Kih?, Ito Mavin, mengatakan film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.
Sebelum memasuki penayangan nasional, sejumlah kota menjadi tujuan pemutaran khusus, termasuk Yogyakarta. Melalui kegiatan ini, masyarakat berkesempatan menyaksikan film lebih awal.
Ito menjelaskan, Piye To Kih? memiliki kekhasan pada penggunaan bahasa Jawa dalam sebagian besar percakapan antartokohnya. Sekitar 85 persen dialog film menggunakan bahasa Jawa.
Meski demikian, penonton yang tidak memahami bahasa Jawa tetap dapat mengikuti cerita karena pihak produksi telah menyediakan subtitle pada hampir seluruh dialog berbahasa daerah tersebut.
Menurut Ito, keputusan menggunakan bahasa Jawa merupakan bagian dari keinginannya menghadirkan keberagaman budaya Indonesia melalui layar lebar.
“Negara kita sebenarnya memiliki banyak sekali budaya dan bahasa. Kami ingin ikut memperkaya nilai-nilai budaya Indonesia. Kenapa tidak menggunakan bahasa Jawa? Kami berharap nantinya banyak film lain yang lahir dengan menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, tidak hanya bahasa Jawa,” jelasnya.
Ia berharap langkah tersebut dapat mendorong pembuat film dari daerah lain untuk lebih berani menggunakan bahasa daerah dalam karya mereka.
Dari sisi cerita, Piye To Kih? mengangkat kehidupan Mukidi, seorang pria yang berusaha mendapatkan hati perempuan pujaannya dengan berpura-pura menjadi orang kaya.
Untuk meyakinkan perempuan yang dicintainya, Mukidi memutuskan membeli sebuah rumah. Namun, keputusannya justru membawa masalah baru karena rumah tersebut ternyata angker.
Situasi semakin rumit setelah Mukidi menemukan sebuah boneka yang berkaitan dengan arwah seseorang yang telah meninggal sekitar 20 tahun lalu.
Sejumlah kejadian aneh kemudian mewarnai kehidupan Mukidi. Di balik berbagai peristiwa tersebut, tersimpan pesan mengenai pentingnya memperbaiki diri sebelum berusaha meraih sesuatu yang diinginkan.
“Film ini berbicara tentang seseorang yang berpura-pura kaya untuk mendapatkan pujaan hatinya. Celakanya, rumah yang dibeli ternyata rumah angker. Namun, justru kerumitan situasi yang dihadapi itu membentuk Mukidi untuk menjadi versi baru dirinya. Pesannya adalah memantaskan diri terlebih dahulu sebelum menginginkan sesuatu,” tuturnya.
Film yang diperuntukkan bagi penonton berusia 13 tahun ke atas ini menghadirkan Heri Chandra sebagai Mukidi dan Dara Sarasvati sebagai Sukma.
Selain keduanya, sejumlah nama turut meramaikan film tersebut, di antaranya Marwoto, Sutrisno Agung, Eko Dunung, Ibnu Gundul, Yono Bakrie, Wiyono, Rizka Oktavia, Faisal Wash, Fajar Mukti, Sky Sitorus, Gabriella Desta, TJ Ruth, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, dan Ivone Dahler.
Terpisah dalam kesempatan yang sama, Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa, dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Andrini Wiramawati, turut menyambut positif kehadiran film yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas ceritanya.
Andrini menjelaskan, pengembangan perfilman berbasis budaya juga menjadi perhatian Dinas Kebudayaan melalui penyelenggaraan Kota Baru Heritage Film Festival.
Festival yang dimulai sejak 2023 tersebut kini telah berkembang menjadi kegiatan berskala nasional. Berbagai program dihadirkan, mulai dari pemutaran film kompetisi, nonkompetisi, hingga kegiatan lain yang berkaitan dengan dunia perfilman.
Menurut Andrini, Piye To Kih? berpeluang menjadi salah satu film yang ditampilkan dalam program pemutaran nonkompetisi pada penyelenggaraan festival mendatang.
Tidak hanya itu, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta juga membuka kesempatan untuk mendukung promosi film melalui kanal media sosial resmi, termasuk Instagram dan YouTube.
Keterlibatan pelaku film lokal, penyelenggaraan festival, serta pemanfaatan kekayaan budaya dinilai menjadi peluang bagi Yogyakarta untuk memperluas perannya dalam industri perfilman nasional. Pemerintah Kota Yogyakarta berharap semakin banyak karya film yang lahir dengan mengangkat identitas daerah dan mampu menjangkau penonton di berbagai wilayah Indonesia. (Fqh).

