Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Hasto Wardoyo: Indonesia Belum Berdikari Secara Ekonomi, Harkitnas Harus Jadi Momentum Kebangkitan

Rabu, 20 Mei 2026 | Mei 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-20T13:17:24Z



Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM — Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menegaskan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 harus dimaknai sebagai momentum membangun kemandirian ekonomi bangsa. Menurutnya, Indonesia memang telah merdeka dan berdaulat secara politik, namun belum sepenuhnya berdikari di bidang ekonomi.


Pernyataan itu disampaikan Hasto saat ditemui di sela kegiatan open house Wali Kota Yogyakarta, Rabu (20/5/2026).


“Sebagai bangsa kita sudah merdeka, berdaulat dalam bidang politik. Tapi kita belum berdikari dalam bidang ekonomi,” kata Hasto.


Dalam refleksinya terhadap Hari Kebangkitan Nasional, Hasto mengaitkan perjuangan bangsa sejak lahirnya Budi Utomo pada 1908 hingga Sumpah Pemuda 1928 sebagai tonggak kebangkitan kesadaran nasional melawan ketertindasan kolonial.


Menurut dia, semangat kebangkitan yang dahulu melahirkan kemerdekaan politik kini harus diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi nasional.


“Hari ini siapa yang mau jadi pahlawan berdikari dalam bidang ekonomi? Saya belum lihat,” ujarnya.


Hasto menyoroti tingginya ketergantungan masyarakat terhadap produk asing, termasuk dominasi marketplace asing dan konsumsi barang impor di Indonesia. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan besar bagi bangsa untuk benar-benar merdeka secara ekonomi.


Karena itu, ia menyerukan gerakan keberpihakan terhadap produk lokal melalui ajakan membeli dan menggunakan hasil produksi dalam negeri.


“Ayo kita bela dan beli produk Indonesia. Kita makan dan minum produk sendiri. Kita tanam yang kita makan, bikin yang kita minum, dan meminum yang kita bikin,” tegasnya.


Selain ketergantungan produk impor, Hasto juga menyinggung persoalan kesenjangan ekonomi nasional. Ia menyebut distribusi kekayaan nasional masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu sehingga dibutuhkan figur-figur yang mampu mendorong pemerataan ekonomi.


“Siapa pahlawan yang bisa menggerakkan distribusi kesejahteraan kepada lebih banyak orang? Itu butuh pahlawan,” katanya.


Secara khusus, Hasto mengajak generasi muda, terutama di Yogyakarta sebagai kota pelajar, untuk mengambil peran dalam perjuangan ekonomi bangsa.


Ia mendorong anak muda membangun kesadaran mencintai produk lokal melalui pendekatan ideologis, bukan kompetisi teknologi.


“Peranglah dengan cara ideologi, bukan teknologi. Kalau perang teknologi kita pasti kalah. Tapi kalau perang ideologi, saya tidak akan membeli produkmu, saya beli produk saya sendiri,” ungkapnya.


Meski demikian, Hasto menegaskan ajakan tersebut bukan bentuk sentimen anti-asing, melainkan penguatan semangat kemandirian nasional.


“Bukan benci asing, tapi cinta kemandirian,” ucapnya.


Di sisi lain, Pemerintah Kota Yogyakarta disebut terus mendorong penguatan karakter kebangsaan melalui pendidikan berbasis nilai lokal, salah satunya melalui kurikulum pendidikan khas Kejogjaan yang diinisiasi Pemerintah Daerah DIY.


Hasto menilai nilai gotong royong dan karakter masyarakat Yogyakarta dapat menjadi fondasi membangun semangat kebangsaan dan ekonomi mandiri di kalangan generasi muda.


Ia mengingatkan agar peringatan Hari Kebangkitan Nasional tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata.


“Kalau hanya upacara, nyanyi Indonesia Raya, lalu selesai, tidak akan ada perubahan. Yang penting bagaimana kebangkitan itu menjawab persoalan ekonomi bangsa,” pungkasnya. (Fqh).

×
Berita Terbaru Update