Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tribuana Manggala Bhakti Digelar di Kulon Progo, Umat Buddha Tanam Pohon dan Lepas Satwa Endemik

Jumat, 15 Mei 2026 | Mei 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-15T13:34:52Z




Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM — Rangkaian peringatan Waisak 2569 BE/2026 di Daerah Istimewa Yogyakarta diisi dengan kegiatan Tribuana Manggala Bhakti yang digelar di kawasan Ekowisata Sungai Mudal, Kalurahan Jatimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis (14/5/2026).


Kegiatan berlangsung pukul 08.00 WIB hingga 13.00 WIB dan menjadi bagian dari agenda Vesakha Sananda 2026. Acara melibatkan umat Buddha, pemerintah daerah, organisasi keagamaan Buddha, mahasiswa Institut Nalanda Jakarta, hingga masyarakat sekitar dalam aksi pelestarian lingkungan.


Ketua Panitia Tribuana Manggala Bhakti, Surahman, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda rutin berbasis ekoteologi yang telah diselenggarakan sejak 2014 di kawasan Pegunungan Menoreh.


“Tribuana itu tiga matra kehidupan yang kita rawat, yakni bumi, air, dan udara. Karena itu ada penanaman pohon, pelepasan ikan endemik, dan pelepasan burung,” ujar Surahman.


Dalam kegiatan tersebut, panitia melaksanakan penanaman pohon secara simbolis, pelepasan ikan nilam endemik kawasan Sungai Mudal, serta pelepasan burung lokal. Bibit pohon juga dibagikan kepada umat untuk ditanam di berbagai wilayah melalui kerja sama dengan instansi terkait.


Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY, Pandu Dinata, S.Kom., M.Pd., menyebut kegiatan tersebut merupakan implementasi program Asta Protas yang mendorong pendekatan ekoteologi dalam kehidupan beragama.


“Bagaimana umat beragama dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan. Beragama bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat dan kelestarian alam,” kata Pandu.


Ia mengatakan konsep ekoteologi diwujudkan melalui pelestarian tiga unsur kehidupan, yakni daratan, air, dan udara, melalui aksi penghijauan dan perlindungan ekosistem.


Pandu juga menyampaikan permohonan maaf apabila dukungan dari Bimas Buddha DIY pada pelaksanaan tahun ini belum maksimal akibat efisiensi anggaran pemerintah. Meski demikian, kegiatan tetap berjalan melalui dukungan swadaya masyarakat, relawan, dan para donatur.


“Pelaksanaan tahun ini murni gotong royong dan dana mandiri. Kami mengapresiasi panitia, relawan, umat, dan donatur yang tetap menjaga keberlangsungan kegiatan ini,” jelasnya.


Rangkaian acara juga diisi puja bakti, pembacaan Dhammapada dan Vanaropa Sutta, pertunjukan seni budaya, geguritan, hingga penampilan seni dari pelajar dan mahasiswa.


Selain itu dilakukan penyerahan simbolis bibit pohon dan ikan kepada sejumlah vihara dan organisasi Buddha oleh Pembimas Buddha DIY, Lurah Jatimulyo, Dinas Perikanan dan Kelautan, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan.


Kegiatan ditutup dengan penanaman pohon dan pelepasan ikan serta burung secara simbolis yang dipimpin unsur pemerintah bersama umat Buddha.


Surahman mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari tradisi masyarakat Buddha Menoreh dalam menjaga keseimbangan antara ajaran agama dan kelestarian lingkungan.


“Di Menoreh, agama dan tradisi berjalan bersama. Karena itu pelestarian lingkungan menjadi bagian dari praktik kehidupan masyarakat,” katanya. (Fqh).

×
Berita Terbaru Update