Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Fashion on The Street Prawirotaman 2026 Digelar 21–23 Agustus, Libatkan SMK, Desainer Muda hingga Model Mancanegara

Kamis, 30 Juli 2026 | Juli 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-30T16:15:54Z



Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM – Fashion on The Street Festival Prawirotaman 2026 akan kembali digelar pada 21–23 Agustus 2026 di kawasan Prawirotaman 1 dan Prawirotaman 2, Kota Yogyakarta. Memasuki penyelenggaraan ke-11, festival yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta berkolaborasi dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY itu mengusung tema "Contemporary Art Batik Evolution: Millennial Batik Revolution 2026" dengan melibatkan generasi muda, pelaku UMKM, komunitas, hingga model mancanegara.


Founder Fashion on The Street Festival Prawirotaman, Lia Mustafa, mengatakan penyelenggaraan tahun ini menghadirkan sejumlah inovasi, salah satunya memperluas lokasi penyelenggaraan hingga Prawirotaman 2 dan memberikan ruang lebih besar bagi desainer muda.


"Hampir sepuluh tahun terakhir desainer yang mendominasi adalah anak muda. Tahun ini kegiatan tidak hanya berlangsung di Prawirotaman 1, tetapi juga Prawirotaman 2 agar lebih banyak pelaku kreatif dapat terlibat," kata Lia saat peluncuran Fashion on The Street Prawirotaman 2026 di Yogyakarta, Rabu (29/7/2026).


Pada hari pertama penyelenggaraan, panitia akan melibatkan enam SMK yang memiliki jurusan Tata Busana, sejumlah perguruan tinggi, komunitas, hingga anggota Dharma Wanita dan berbagai kalangan masyarakat sebagai model yang mengenakan karya desainer muda.


Menurut Lia, konsep tersebut bertujuan menunjukkan bahwa dunia fashion terbuka bagi semua kalangan sekaligus menjadi sarana promosi produk lokal.


"Kami ingin membangun kepercayaan diri para desainer muda sekaligus mengajak masyarakat mencintai produk lokal. Fashion tidak hanya milik model profesional," ujarnya.


Pada 22 Agustus, Dekranasda DIY akan menggelar pelatihan membatik bagi 25 pembatik muda berusia di bawah 40 tahun. Hasil karya mereka selanjutnya akan dipresentasikan dalam fashion show oleh lima desainer, bersama sejumlah desainer tamu dari Malang dan Bandung.


Selain itu, Fashion on The Street 2026 juga menggandeng Office of International Affairs (OIA) Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan menghadirkan mahasiswa asing sebagai peragawati.


"Tahun lalu kami menghadirkan desainer dari luar negeri. Tahun ini kami menghadirkan model mancanegara agar batik karya anak muda Yogyakarta dapat dipromosikan kepada masyarakat internasional," ungkapnya.


Festival tersebut juga menghadirkan Pop Market, yang menjadi ruang promosi sekaligus penjualan karya siswa SMK, desainer muda, dan pelaku UMKM dengan harga yang menyasar kalangan muda.


Sementara itu, Kepala Bidang Daya Tarik Pariwisata, Yurnelis Piliang, menilai Fashion on The Street merupakan bagian dari upaya memperkuat posisi Yogyakarta sebagai Kota Fashion Dunia sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif.


"Fashion tidak hanya berbicara tentang busana, tetapi juga aksesoris, tas, sepatu, sandal, hingga berbagai produk kreatif lainnya. Seluruh sektor itu memiliki dampak ekonomi yang besar," katanya.


Menurut Yurnelis, konsep Fashion on The Street menjadi daya tarik tersendiri karena memanfaatkan kawasan wisata Prawirotaman sebagai ruang publik untuk memamerkan karya para desainer.


"Di berbagai negara ada carnival on the street. Di Yogyakarta kita memiliki Fashion on The Street yang menjadi identitas tersendiri dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif," terangnya.


Ia berharap penyelenggaraan festival dapat meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperluas promosi produk-produk UMKM Yogyakarta.


Hal senada disampaikan Wakil Ketua Dekranasda DIY, Tazbir Abdullah, yang menyebut sektor fashion menjadi salah satu penggerak utama ekonomi kreatif di DIY.


Menurutnya, Yogyakarta memiliki modal kuat karena konsisten menyelenggarakan agenda fashion berskala nasional seperti Jogja Fashion Week dan Fashion on The Street.


"Semakin banyak kegiatan fashion, semakin besar pula peluang peningkatan penjualan produk lokal. Fashion bukan hanya mempromosikan karya desainer, tetapi juga menggerakkan UMKM di berbagai sektor," kata Tazbir.


Ia menambahkan, batik tetap menjadi identitas utama Yogyakarta dalam pengembangan industri fashion.


"Melalui berbagai kegiatan fashion, kami ingin menunjukkan bahwa batik Yogyakarta terus berkembang dan mampu mengikuti tren tanpa meninggalkan nilai budaya yang dimilikinya," tambahnya.


Fashion on The Street Festival Prawirotaman 2026 diharapkan menjadi salah satu agenda unggulan yang memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, memperluas promosi produk lokal, sekaligus mendukung visi Yogyakarta sebagai Kota Fashion Dunia. (Fqh).

×
Berita Terbaru Update