Sleman, ISUETERKININEWS.COM — Jalanan Padukuhan Kaliwaru, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Sleman, dipenuhi nuansa budaya pada Selasa (25/8/2026). Ratusan warga mengikuti Kirab Budaya RW 34 Kaliwaru 2026 yang menghadirkan beragam kesenian tradisional sekaligus menjadi ruang pertemuan antar-generasi.
Sebanyak kurang lebih 450 warga, mulai dari anak usia balita, pelajar, remaja, orang dewasa, hingga warga lanjut usia, terlibat dalam kegiatan tersebut. Kirab digelar sebagai bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia serta memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 12.00 WIB, kegiatan ini menampilkan berbagai atraksi budaya, mulai dari barongsai, bregada, warok, jaranan anak-anak, gedruk, gunungan, hingga mobil hias kreasi masyarakat.
Kirab secara resmi dibuka oleh Carik Condongcatur Riska Dian Nur Lestari, S.TP., M.Sc., yang hadir mewakili Pemerintah Kalurahan Condongcatur.
Dalam kesempatan tersebut, Riska menyampaikan apresiasi terhadap warga RW 34 Kaliwaru yang terus menjaga keberadaan seni tradisional di lingkungan masyarakat.
“Pemerintah Kalurahan Condongcatur sangat senang RW 34 Kaliwaru melestarikan kesenian-kesenian tradisional. Semoga kegiatan seperti ini terus dilestarikan,” ujar Riska.
Usai pembukaan, rombongan kirab bergerak dari Gapura RW 34 Kaliwaru menuju sejumlah ruas jalan di Kampung Kaliwaru, Kampung Sanggrahan, hingga kawasan Ring Road Utara. Di beberapa titik perjalanan, peserta berhenti untuk menampilkan pertunjukan seni yang disaksikan langsung oleh masyarakat.
Kirab tersebut tidak hanya menjadi agenda perayaan, tetapi juga menghadirkan suasana seperti panggung budaya yang berjalan di tengah permukiman warga.
Regenerasi Warok hingga Keterlibatan Anak-anak
Salah satu perhatian utama dalam Kirab Budaya RW 34 Kaliwaru tahun ini adalah semakin banyaknya generasi muda yang terlibat dalam kesenian tradisional.
Ketua RW 34 Kaliwaru Ahmad Fathoni menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas wilayah sebagai RW Berbudaya. Selain menjaga tradisi, kegiatan ini juga menjadi sarana mengenalkan budaya Jawa kepada generasi penerus.
“Kirab Budaya ini merupakan manifestasi RW 34 sebagai RW Berbudaya dan menjadi bagian dari upaya menanamkan budaya Jawa kepada generasi penerus. Saat ini jumlah anak usia sekolah di RW 34 sangat banyak,” ungkap Fathoni.
Menurut Fathoni, perkembangan paling terlihat terjadi pada kesenian warok. Jika pada pelaksanaan sebelumnya hanya terdapat dua warga yang tampil sebagai warok, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi delapan orang.
Tidak hanya orang dewasa, anak-anak usia dini pun mulai menunjukkan ketertarikan dengan ikut tampil menggunakan atribut warok.
Keterlibatan generasi muda juga tampak pada kelompok kesenian lain. Anak-anak dan remaja turut menjadi bagian dari penampilan jathilan, gedruk, bregada, serta berbagai kreasi seni yang disiapkan warga.
Bagi masyarakat Kaliwaru, keterlibatan tersebut menjadi cara agar budaya tidak berhenti sebagai tontonan semata, melainkan menjadi pengalaman yang dikenalkan langsung kepada generasi berikutnya.
Dukuh Kaliwaru Widiyatmoko mengatakan keberlanjutan tradisi sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda.
“Yang penting bukan hanya ramainya kirab, tetapi bagaimana budaya itu diwariskan. Ketika anak-anak sudah mau ikut menjadi paraga dan mengenal kesenian sejak kecil, proses regenerasi mulai berjalan,” kata Widiyatmoko.
Gunungan dan Tradisi Rayahan Tutup Rangkaian Acara
Selain pertunjukan kesenian, gunungan berisi hasil bumi dan berbagai jajanan anak-anak menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan dalam kirab.
Gunungan tersebut diarak bersama rombongan sebelum akhirnya menjadi bagian dari tradisi rayahan. Warga berebut mengambil isi gunungan sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Setelah menyelesaikan seluruh rute, peserta kembali berkumpul untuk menikmati hidangan soto bersama yang telah disiapkan panitia. Suasana semakin meriah dengan sejumlah pertunjukan tambahan dari kelompok seni warga.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan tausiah dan doa yang dipimpin Ustadz Aminuddin selaku Rois Kaliwaru.
Momen rayahan gunungan menjadi penutup yang penuh kegembiraan. Warga tampak antusias mengambil hasil bumi dan jajanan yang tersedia, menciptakan suasana akrab di antara peserta dan masyarakat.
Kirab Budaya RW 34 Kaliwaru 2026 menjadi gambaran bagaimana tradisi lokal dapat berjalan beriringan dengan semangat kemerdekaan, nilai keagamaan, serta kebersamaan masyarakat.
Melalui kegiatan tersebut, warga Kaliwaru menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dimulai dari panggung besar. Dari lingkungan kampung, tradisi dapat terus hidup melalui keterlibatan masyarakat, terutama generasi muda yang menjadi penerusnya. (Fqh).

