Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM — Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke-21 resmi dibuka di kawasan depan Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada Rabu (26/2/2026) malam. Festival budaya tahunan tersebut kembali digelar sebagai agenda budaya lintas etnis yang menegaskan komitmen Yogyakarta sebagai kota toleransi dan keberagaman.
Pembukaan festival berlangsung di panggung utama dan dihadiri Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Turut hadir Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya serta perwakilan pemerintah pusat dari Kementerian Pariwisata.
Ketua Pelaksana PBTY ke-21, Ernes Lianggar Kurniawan, mengatakan penyelenggaraan PBTY tahun ini memiliki makna khusus karena berlangsung bertepatan dengan bulan Ramadan.
Menurutnya, pelaksanaan festival di tengah momentum keagamaan tersebut menjadi simbol harmonisasi masyarakat Yogyakarta yang hidup dalam keberagaman budaya dan keyakinan.
“Hal ini menunjukkan bahwa Yogyakarta merupakan City of Tolerance, di mana berbagai kegiatan budaya dapat berjalan berdampingan dengan tetap menjaga saling menghormati,” ujarnya saat pembukaan acara.
Seremoni pembukaan dimeriahkan berbagai pertunjukan seni budaya, mulai dari tarian Nusantara, tarian tradisional Tionghoa, hingga penampilan Paguyuban Fujing. Atraksi Naga Putih yang sebelumnya meraih penghargaan dalam ajang internasional di Shanghai turut menjadi salah satu sajian utama malam pembukaan.
Panitia juga menyesuaikan rangkaian kegiatan dengan suasana Ramadan melalui program ngabuburit di area panggung utama. Sebanyak 100 paket takjil dibagikan kepada masyarakat pada hari pertama pelaksanaan, dengan melibatkan pelaku UMKM yang berpartisipasi selama festival berlangsung.
Pada 27 Februari 2026, festival dijadwalkan menghadirkan tausiah kebangsaan bersama Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq sebagai bagian dari penguatan nilai toleransi antarumat beragama.
Ketua Umum PBTY, Jimmy Sutanto, menyampaikan bahwa PBTY yang telah diselenggarakan sejak 2005 terus berkembang menjadi festival budaya lintas etnis yang memadukan seni tradisi Tionghoa dan Nusantara.
“Tahun ini kami mengangkat tema Mewarisi Seni Budaya, Memperkuat Persatuan Indonesia sebagai upaya mempererat kebersamaan melalui seni dan budaya,” katanya.
Selain pertunjukan seni, PBTY 2026 juga menghadirkan pameran bertajuk “Pandu Tionghoa” yang menampilkan sejarah gerakan kepanduan Tionghoa di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pameran tersebut menyoroti kontribusi berbagai organisasi kepanduan dalam pembentukan Gerakan Pramuka Indonesia.
Festival yang berlangsung pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026 ini diikuti 172 tenant UMKM serta dimeriahkan berbagai kompetisi, di antaranya lomba Chinese Costume, tari kreasi modern, modern dance, dan lomba menyanyi lagu Mandarin.
Penyelenggara berharap PBTY ke-21 dapat meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap pentingnya keberagaman budaya sebagai fondasi persatuan nasional sekaligus memperkuat implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. (Fqh).

