Kegiatan ini menghadirkan Lurah Condongcatur, Dr. Reno Candra Sangaji, S.IP., M.IP., serta dokter spesialis anak RS Condong Catur, dr. Dhyah Listya Palupi, Sp.A., dengan dipandu oleh Kusdy Arjuna.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Reno Candra Sangaji menegaskan bahwa persoalan stunting masih menjadi fokus utama di wilayahnya. Ia menyebutkan, pada 2024 terdapat 59 kasus stunting, yang kemudian berhasil ditekan menjadi 51 kasus pada 2025.
“Penurunan ini tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui proses panjang dan kerja sama yang melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat,” ujar Reno.
Menurutnya, berbagai program terus dioptimalkan untuk menjaga tren penurunan tersebut. Salah satunya melalui Program DAHSYAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) yang mendorong keluarga untuk lebih mandiri dalam menyediakan makanan bergizi berbasis potensi lokal. Selain itu, program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) juga difokuskan bagi balita dan ibu hamil yang masuk kategori rentan.
Upaya lain dilakukan melalui penguatan peran 40 Posyandu yang tersebar di wilayah Condongcatur. Program ini melibatkan kerja sama antara Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Puskesmas Depok II, dan RS Condong Catur. Kegiatan di lapangan turut didukung kader kesehatan yang telah mendapatkan sertifikasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.
“Yang kita dorong bukan hanya bantuan, tapi juga sistem yang berjalan. Rujukan dari posyandu ke fasilitas kesehatan harus jelas dan tidak terhambat,” tuturnya.
Dari sisi medis, dr. Dhyah Listya Palupi, Sp.A. menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, yang sering kali diperparah oleh infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ia menuturkan, anak yang mengalami stunting biasanya menunjukkan tinggi badan di bawah standar usianya, disertai perkembangan kognitif yang kurang optimal.
“Stunting ini dampaknya jangka panjang, tidak hanya fisik tapi juga kemampuan belajar anak. Karena itu pencegahan harus dilakukan sedini mungkin,” ungkap dr. Dhyah.
Ia menambahkan, langkah pencegahan dapat dimulai dari pemberian ASI eksklusif, dilanjutkan dengan MPASI yang memenuhi kebutuhan gizi, pola asuh yang tepat, serta stimulasi tumbuh kembang anak secara konsisten.
Selain itu, dr. Dhyah Listya Palupi, Sp.A. menekankan pentingnya pemantauan rutin melalui layanan kesehatan. Sistem penanganan stunting dilakukan secara berjenjang, dimulai dari Posyandu, kemudian Puskesmas, hingga rumah sakit apabila diperlukan penanganan lebih lanjut.
Ia juga mengingatkan bahwa pencegahan stunting idealnya sudah dimulai sebelum kehamilan. Program perencanaan kehamilan (promil) dinilai penting untuk memastikan kesiapan kesehatan calon ibu, termasuk pemenuhan nutrisi seperti asam folat dan zat besi.
“Tantangan yang masih kita hadapi di lapangan adalah belum meratanya kepercayaan masyarakat terhadap posyandu. Ini yang perlu terus dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan,” katanya.
Melalui kegiatan podcast ini, RS Condong Catur menegaskan perannya tidak hanya sebagai tempat pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai pusat edukasi yang aktif mendorong kolaborasi lintas sektor. Layanan yang tersedia meliputi konsultasi tumbuh kembang anak, layanan kesehatan ibu dan anak, hingga pendampingan program kehamilan dengan dukungan tenaga medis profesional.
Masyarakat diharapkan dapat lebih aktif memanfaatkan layanan yang ada, serta rutin mengikuti kegiatan posyandu sebagai bagian dari upaya bersama mencegah stunting sejak dini. (Fqh).

