Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Dinkes Yogyakarta Temukan Puluhan Anak Korban Daycare Little Aresha Alami Gangguan Gizi dan Perkembangan

Rabu, 20 Mei 2026 | Mei 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-20T13:04:42Z




Yogyakarta, ISUETERKININEWS.COM — Pemerintah Kota Yogyakarta terus melakukan tindak lanjut penanganan terhadap anak-anak korban dugaan kekerasan di Daycare Little Aresha. Hasil skrining kesehatan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menemukan puluhan anak mengalami persoalan gizi dan gangguan perkembangan sehingga memerlukan penanganan lanjutan.


Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Aan Iswanti, mengatakan skrining pertumbuhan dan perkembangan dilakukan bersama puskesmas, UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), serta Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta.


“Skrining ini tujuannya untuk mengidentifikasi kondisi kesehatan anak sejak dini sehingga dapat dilakukan tindak lanjut yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing anak,” kata Aan dalam jumpa pers perkembangan pemulihan kesehatan korban Daycare Little Aresha, Selasa (19/5/2026).


Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, sebanyak 149 anak menjalani skrining pertumbuhan. Hasilnya, ditemukan 18 anak mengalami masalah gizi pada kategori berat badan kurang dan gizi kurang.


Sementara itu, sebanyak 153 anak mengikuti skrining perkembangan. Dari jumlah tersebut, 12 anak mengalami penyimpangan perkembangan, 19 anak masuk kategori meragukan, dan 122 anak dinyatakan berkembang normal.


Aan menegaskan kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai gizi buruk karena penilaian dilakukan berdasarkan pengukuran antropometri sesuai standar kesehatan.


“Kalau dilihat secara fisik bahkan ada yang tidak tampak gizi kurang. Tetapi setelah dilakukan pengukuran berdasarkan standar, ditemukan beberapa anak dengan berat badan kurang dan gizi kurang,” ungkapnya.


Menurut Aan, sejumlah indikasi gangguan perkembangan yang ditemukan antara lain speech delay atau keterlambatan bicara, gejala yang mengarah pada autisme, hingga Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.


Anak-anak yang terindikasi mengalami masalah tumbuh kembang akan menjalani validasi status kesehatan di puskesmas dan pemeriksaan lanjutan secara komprehensif. Jika diperlukan, rujukan akan diberikan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut, termasuk RSUD Kota Yogyakarta dan RSUP Dr. Sardjito.


“Kami terus melaksanakan pendampingan dan tindak lanjut bersama fasilitas pelayanan kesehatan guna memastikan anak-anak memperoleh penanganan optimal sesuai hasil skrining,” kata Aan.


Dinas Kesehatan juga meminta para orang tua tetap memantau kondisi tumbuh kembang anak dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika ditemukan gejala gangguan, mengingat beberapa kondisi dimungkinkan muncul setelah pemeriksaan awal.


Sementara itu, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Yogyakarta, Sylvi Dewajani, menyatakan pendampingan terhadap korban dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kesehatan, psikologi hingga aspek hukum.


Selain itu, Pemkot Yogyakarta juga memfasilitasi pemindahan anak-anak korban ke daycare lain dengan pembiayaan ditanggung pemerintah kota selama dua bulan hingga Juni 2026.


Di sisi lain, pemerintah daerah tengah mempercepat evaluasi dan pembenahan tata kelola daycare melalui penyusunan regulasi baru tingkat daerah.


“Akan ada regulasi dalam bentuk Keputusan Wali Kota yang mengatur sistem operasional daycare, mulai dari SDM, pengawasan hingga standar pelayanan sesuai ketentuan nasional,” ungkap Sylvi. (Fqh).

×
Berita Terbaru Update