Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Hujan Guyur Upacara Hari Jadi ke-110 Sleman, Sri Sultan HB X Tegaskan Makna Persatuan dan Budaya

Minggu, 24 Mei 2026 | Mei 24, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-24T13:01:03Z




Sleman, ISUETERKININEWS.COM — Upacara Peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman berlangsung khidmat di Lapangan Denggung, Sleman, Sabtu (23/5/2026), meski sempat diguyur hujan deras yang menyebabkan rangkaian acara mengalami keterlambatan hingga selesai sekitar pukul 17.00 WIB.

Dalam upacara budaya tersebut, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X bertindak sebagai Pengageng Upacara. Kehadiran Ngarso Dalem mempertegas nuansa budaya dan tradisi adiluhung Yogyakarta dalam momentum Hari Jadi Kabupaten Sleman.

Rangkaian acara diawali kirab Marching Band STPN dan prosesi Kirab Pusaka dari Pendapa Parasamya menuju Lapangan Denggung. Berbagai bregada dari kapanewon, kalurahan, hingga instansi se-Kabupaten Sleman turut ambil bagian dengan mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta.

Salah satu prosesi yang menyita perhatian masyarakat adalah kirab pusaka Tombak Kanjeng Kyai Turunsih yang sarat nilai sejarah dan filosofi budaya Jawa. Upacara juga diiringi gendhing Jawa tradisional yang menambah suasana sakral dan penuh wibawa.

Dalam Sabdatama yang disampaikan, Sri Sultan Hamengkubuwono X menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum memperkuat persatuan dan harmoni sosial masyarakat.

“Peringatan Hari Jadi Kabupaten Sleman bukan sekadar seremoni tahunan, namun menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menjaga harmoni sosial, dan meneguhkan pengabdian kepada masyarakat serta negara,” ujar Sri Sultan HB X.

Sri Sultan menjelaskan tema Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, “Nggendong Mikul Murih Rahayuning Sleman”, mengandung makna semangat bersama dalam menjaga keselamatan, keharmonisan, kerukunan, dan kesejahteraan masyarakat Sleman.

Menurutnya, pembangunan Sleman tidak hanya berfokus pada infrastruktur dan kemajuan fisik, tetapi juga menjaga ketenteraman batin, kelestarian lingkungan, serta nilai budaya masyarakat.

Sri Sultan juga menekankan pentingnya falsafah Yogyakarta “Hamemayu Hayuning Bawana” sebagai pedoman moral dalam kehidupan sosial maupun penyelenggaraan pemerintahan.

“Rahayuning bawana tidak hanya berarti keselamatan lahiriah, tetapi juga ketenteraman hati, persatuan masyarakat, dan keharmonisan kehidupan bersama,” tegasnya.

Selain itu, Sri Sultan mengingatkan pentingnya menanamkan nilai “Tri Satya Brata”, yakni membangun budi pekerti luhur, menjaga kelestarian bumi, serta mewujudkan keselamatan dan kesejahteraan bersama.

Sementara itu, sebanyak 34 personel Barisan Bregada Kalurahan Condongcatur turut ambil bagian dalam upacara tersebut. Sebelum berangkat menuju Lapangan Denggung, seluruh personel mengikuti briefing dan foto bersama di halaman Kantor Kalurahan Condongcatur.

Kontingen Kapanewon Depok bersama empat kalurahan, termasuk Kalurahan Condongcatur, menempati Daerah Persiapan (DP) III di kawasan barat Dinas PUPKP Kabupaten Sleman dan memasuki Lapangan Denggung melalui pintu utara.

Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam mengatakan keikutsertaan Barisan Bregada Kalurahan Condongcatur merupakan bentuk nyata pelestarian budaya Jawa sekaligus memperkuat sinergi antarwilayah di Kabupaten Sleman.

“Keikutsertaan Barisan Bregada Kalurahan Condongcatur ini menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa dan memperkuat kebersamaan antar kapanewon dan kalurahan di Kabupaten Sleman,” katanya.

Menurut Al Thouvik Sofisalam, keberadaan barisan bregada bukan sekadar formasi upacara, melainkan simbol persatuan masyarakat dalam menjaga tradisi dan kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

Momentum Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman diharapkan menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah harus berjalan seimbang antara kemajuan fisik, tata kelola pemerintahan, pelestarian budaya, dan penguatan kerukunan sosial masyarakat. (Fqh).

×
Berita Terbaru Update