KAMPAR, ISUETERKININEWS.COM – Kebijakan meliburkan aktivitas belajar mengajar akibat kabut asap menuai sorotan dari masyarakat. Pasalnya, sejumlah sekolah meliburkan kegiatan tatap muka demi melindungi kesehatan siswa dari paparan asap, namun di sisi lain para siswa tetap diwajibkan datang ke sekolah untuk mengambil makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kondisi tersebut dinilai menimbulkan pertanyaan di kalangan orang tua dan masyarakat. Mereka menilai tujuan meliburkan sekolah agar siswa tidak terpapar asap menjadi kurang efektif jika siswa tetap harus keluar rumah dan datang ke lingkungan sekolah.
Sejumlah orang tua mempertanyakan konsistensi kebijakan tersebut. Menurut mereka, jika alasan utama sekolah diliburkan adalah demi keselamatan dan kesehatan siswa dari paparan kabut asap, maka mewajibkan siswa datang ke sekolah justru dinilai bertentangan dengan tujuan tersebut.
"Kalau memang asap berbahaya sampai sekolah diliburkan, kenapa anak-anak masih disuruh datang mengambil MBG? Bukankah mereka tetap menghirup udara yang sama?" ujar salah seorang orang tua murid.
Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat mengevaluasi mekanisme penyaluran Program MBG saat kondisi darurat kabut asap, sehingga manfaat program tetap tersalurkan tanpa mengabaikan keselamatan siswa.
Warga meminta agar selama status kabut asap masih mengganggu kualitas udara, penyaluran MBG dilakukan dengan mekanisme yang lebih aman, seperti melalui orang tua, jadwal bergilir, atau metode distribusi lain yang meminimalkan paparan asap bagi siswa.
ISUETERKININEWS.COM akan terus mengikuti perkembangan kebijakan sekolah dan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di tengah kondisi kabut asap di Provinsi Riau.
